Hari ini aku dapat kabar yang menggantung. Dari nomor kakakku. Kakak? Ya secara garis darah dia masih tetap kakakku. Kakak yang sudah lama menghilang. Pergi dengan membawa banyak sakit di hati. Dulu, dulu sekali kami akrab. Banyak bercerita, banyak bermain. Dia salah satu tempatku bermanja. Sebelum tingkah buruknya merubah segalanya. Dia punya kekurangan, kekurangannya bermuka dua. Kekurangannya, diam-diam menyakitkan. Dia pernah berkata padaku, pantaslah aku ditinggalkan seseorang dan seorang itu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku. Padahal, dia sama sekali tidak tau ceritanya. Padahal, dia kakak kandungku, tapi ucapannya menyakitiku. Memojokkanku. Sejak saat itu, aku tidak mau berurusan lagi dengannya. Sampai beberapa Minggu lalu dia datang, membawa kabar dia tengah sakit parah. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit tipis. Setiap hari ia meminta maaf. Tapi belakangan ini, dia membuatku kesal karna aku dibawa-bawa ke dalam masalah yang cukup "meribetkan"ku. Aku tidak ...
Mencoba mensyukuri hal-hal kecil sebelum Allah menghadiahi hal-hal yang lebih besar