Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya. Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak. Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar. Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik. Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain. Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta. Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya" Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku. Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas ...
Hari ini aku dapat kabar yang menggantung. Dari nomor kakakku. Kakak? Ya secara garis darah dia masih tetap kakakku. Kakak yang sudah lama menghilang. Pergi dengan membawa banyak sakit di hati. Dulu, dulu sekali kami akrab. Banyak bercerita, banyak bermain. Dia salah satu tempatku bermanja. Sebelum tingkah buruknya merubah segalanya. Dia punya kekurangan, kekurangannya bermuka dua. Kekurangannya, diam-diam menyakitkan. Dia pernah berkata padaku, pantaslah aku ditinggalkan seseorang dan seorang itu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku. Padahal, dia sama sekali tidak tau ceritanya. Padahal, dia kakak kandungku, tapi ucapannya menyakitiku. Memojokkanku. Sejak saat itu, aku tidak mau berurusan lagi dengannya. Sampai beberapa Minggu lalu dia datang, membawa kabar dia tengah sakit parah. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit tipis. Setiap hari ia meminta maaf. Tapi belakangan ini, dia membuatku kesal karna aku dibawa-bawa ke dalam masalah yang cukup "meribetkan"ku. Aku tidak ...