Sangkamu, selama ini aku baik-baik saja.
Melepasmu, membiarkanmu mencari apa yang ingin kau cari.
Memperhatikanmu dari kejauhan, tanpa adanya sapaan.
Kau salah. Aku nyatanya tak pernah benar-benar baik-baik saja.
Ada rindu yang sedang coba aku bunuh.
Ada ingin yang sedang aku kubur dalam-dalam. Sakit.
Melihatmu dari kejauhan, hanya akan mendapati ngilu hati tak berkesudahan.
Kau tau? Perbincangan basa-basi denganmu adalah kenyataan yang selalu aku semogakan. Ya, setidaknya dalam basa-basi itu, kita dapat saling melempar senyum dari kejauhan.
Dalam diam, aku tak betul-betul diam. Aku berbuat banyak demi bisa dipertemukan denganmu.
Memperbaiki diri, adalah banyak kegiatan yang selalu aku lakukan.
Sebab, aku tak ingin datang kepadamu dalam keadaan lemah keimanan dan keilmuan.
Diam lisanku, diam jemariku untuk menyapamu.. tak berarti diam pula hatiku yang terus mengaduh kepada Allah untuk memilikimu secara utuh.
Dalam kesibukan aktivitas jihadku, tak pernah ku sibuk untuk menceritakanmu kepada Allah barang sekejap.
Hanya Allah dan para malaikatNya yang tau, sudah berapa ribu bahkan jutaan kali namamu terucap dari bibir seorang aku.
Bukan aku tak ingin mendekatimu, lalu mengunci hatimu hanya untukku.,
Namun, aku tau.. Allah belum tentu ridha dengan jalan itu.
Maka aku adalah dingin yang membeku bagimu.
Lidahku kelu untuk sekedar bersapa denganmu,
Mataku nanar untuk melihatmu lamat-lamat.
Namun, hatiku tabuh untuk memintamu sungguh-sungguh.
Jangan kau sangka, aku benar-benar diam, saat pesanmu hanya ku baca.
Kau tak tau, ada hati yang mengembang di baliknya.
Juga ada ngilu yang tertekan karenanya.
Rindu, adalah hadiah yang kau beri tiap kali aku memikirkan namamu.
Maka, jangan kau sangka aku betul-betul diam di belakangmu.
Sebab, dalam langit doa hanya namamu yang menyublim bersama rinduku.