Langsung ke konten utama

Mengerti..

Pernah menyakiti? Pasti pernah.
Pernah disakiti? Pun pasti pernah.
Setiap yang bernyawa pasti pernah merasakan sakit.
Seperti seorang yang dicampakan dari lingkungan,
Seperti seekor kucing yang ditendang padahal hanya meminta sisa makanan,
Seperti pohon yang mati akibat sering dicabut daunnya karna keisengan.
Semua itu sakit.

Tapi,
Seekor kucing itu tidak dendam dan membalas.
Ia hanya diam, ketakutan dan pergi. Besok pun datang lagi.
Sebatang pohon yang melahirkan tunas baru sebelum ia mati. Jenisnya tetap tumbuh dan memberi manfaat.

Bukan kah manusia harus lebih baik dari kedua makhluk itu?
Lalu, kenapa harus ada kata "balas dendam" dalam hidup yang singkat ini?
Lalu, kenapa tidak merasa malu kepada hewan dan tanaman?
Lalu, kenapa merasa selalu tinggi hati padahal kita akan kembali ke dalam bumi?

Lalu, kenapa masih hidup hari ini?
Sebab, Allah sediakan waktu untuk menjadi lebih baik dari kemarin.

Tiap orang tentu punya sifat yang berbeda-beda.
Kita sebagai makhluk sosial harusnya tidak menuntut orang lain harus memiliki pemikiran yang sama dengan kita.
Kita pun harus belajar bagaimana menyikapi lingkungan dengan baik.

Buka luas pemikiran dan hati,
Itu salah satu cara menanggalkan dendam dan rasa iri.

Aku pun, sedang belajar mengerti.

SW.

Postingan populer dari blog ini

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Tempat ternyaman

Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya. Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak. Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar. Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik. Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain. Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta. Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya" Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku. Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas ...

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...