Kita berubah,
Merangkak naik perlahan.
Meninggalkan tempat ternyaman yang kita huni untuk sebuah pencapaian dalam masa depan.
Ada banyak masalah,
Salah satu diantaranya adalah kehilangan.
Meraung hati diam-diam,
Dalam sunyi yang tak berkesudahan aku memilih mengabaikan.
Namun nyatanya tak benar-benar bisa diabaikan.
Teringat lagi,
Menangis lagi.
Sampai waktu dimana kehilangan itu hilang.
Lara tak lagi pulang,
Bahagia kan datang.
Duhai dunia,
Jangan buat aku terus merasa kemalangan.
Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...