Langsung ke konten utama

Mama

Wanita itu dulu muda.
Tulangnya kuat, seperti tekadnya untuk mengubah nasib yang ia percayai bisa ia ubah selama ia berusaha.
Wanita yg selalu menjagaku dan mengajarkan aku untuk selalu kuat dan bersabar serta berserah diri kepada Allah tiap waktunya.
Wanita itu kian waktu kian menua. Tapi tak pernah sedetikpun kasihnya pudar termakan zaman dan memutih seperti uban yang mulai tumbuh satu per satu pada rambut indahnya.

"Yun, kita jadi perempuan itu harus mandiri. Gak boleh bergantung sama siapa pun selain sama Allah. Kalau kita benar, kita harus jaga harga diri. Kalau salah, minta maaf dan akui." Dan masih banyak petuah lainnya yg selalu ia beri.
Petuah-petuah yg menjadikan aku kuat dan mampu berdiri hingga saat ini.

"Ya Allah.. kuatkanlah tubuhku agar aku bisa mencari rezeki dan menyekolahkan anak-anakku sampai titik di mana aku mampu."
Adalah doa yg selalu ia ulang-ulang pada sholat wajib dan sunnahnya.
Do'a yg keluar dari bibirnya dan diiringi air mata yang membasahi pipinya yang tak lagi kencang.
Lirih.. berserah dan memohon kepada Allah tanpa malu dan segan.
Karna ia percaya, bahwa berusaha tanpa mengemis pada Tuhan sama saja sia-sia.

"Ma, percaya aja semua ujian yang Allah kasih sampai dengan saat ini adalah tanda kita kuat. Allah kan gak mungkin kasih kita cobaan di luar batas kemampuan kita. Gak apa-apa di dunia kita ngerasain banyak ujian. Jatuh, susah, nangis. Gak apa-apa. Toh kita juga akan mati dan kembali ke hadapan Allah. Kita berdo'a terus ya ma.. supaya kita terus bersama-sama di Surga. Di sana kita akan selalu bahagia."
Adalah penguatan yg aku berikan kepadanya. Saat ku lihat ia mulai lelah dengan hidup ini.
Lalu ia mengaamiinkannya dalam-dalam.

Tubuhnya yg ku kenal sekuat baja, tak lagi kuat.
Ia mulai ringkih juga tak bisa berbuat sebanyak dulu.
Tapi ia tetap sama.
Ia tetap menjadi madrasah utamaku.
Ia tetap jadi penyeka tiap air mata dan lelahku.
Asaku, hanya ingin bahagiakannya dan bersamanya kembali di Surga.
Ku jaga baik-baik hatinya.
Aku adalah perisai utama bagi siapa saja yang ingin menyakitinya.

Ia adalah manusia pertama yang memberiku semua asupan berguna.
Ia adalah tempat teraman dan ternyaman di dunia.
Ku panggil ia mama.

Postingan populer dari blog ini

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Tempat ternyaman

Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya. Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak. Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar. Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik. Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain. Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta. Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya" Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku. Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas ...

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...