Wanita itu dulu muda.
Tulangnya kuat, seperti tekadnya untuk mengubah nasib yang ia percayai bisa ia ubah selama ia berusaha.
Wanita yg selalu menjagaku dan mengajarkan aku untuk selalu kuat dan bersabar serta berserah diri kepada Allah tiap waktunya.
Wanita itu kian waktu kian menua. Tapi tak pernah sedetikpun kasihnya pudar termakan zaman dan memutih seperti uban yang mulai tumbuh satu per satu pada rambut indahnya.
"Yun, kita jadi perempuan itu harus mandiri. Gak boleh bergantung sama siapa pun selain sama Allah. Kalau kita benar, kita harus jaga harga diri. Kalau salah, minta maaf dan akui." Dan masih banyak petuah lainnya yg selalu ia beri.
Petuah-petuah yg menjadikan aku kuat dan mampu berdiri hingga saat ini.
"Ya Allah.. kuatkanlah tubuhku agar aku bisa mencari rezeki dan menyekolahkan anak-anakku sampai titik di mana aku mampu."
Adalah doa yg selalu ia ulang-ulang pada sholat wajib dan sunnahnya.
Do'a yg keluar dari bibirnya dan diiringi air mata yang membasahi pipinya yang tak lagi kencang.
Lirih.. berserah dan memohon kepada Allah tanpa malu dan segan.
Karna ia percaya, bahwa berusaha tanpa mengemis pada Tuhan sama saja sia-sia.
"Ma, percaya aja semua ujian yang Allah kasih sampai dengan saat ini adalah tanda kita kuat. Allah kan gak mungkin kasih kita cobaan di luar batas kemampuan kita. Gak apa-apa di dunia kita ngerasain banyak ujian. Jatuh, susah, nangis. Gak apa-apa. Toh kita juga akan mati dan kembali ke hadapan Allah. Kita berdo'a terus ya ma.. supaya kita terus bersama-sama di Surga. Di sana kita akan selalu bahagia."
Adalah penguatan yg aku berikan kepadanya. Saat ku lihat ia mulai lelah dengan hidup ini.
Lalu ia mengaamiinkannya dalam-dalam.
Tubuhnya yg ku kenal sekuat baja, tak lagi kuat.
Ia mulai ringkih juga tak bisa berbuat sebanyak dulu.
Tapi ia tetap sama.
Ia tetap menjadi madrasah utamaku.
Ia tetap jadi penyeka tiap air mata dan lelahku.
Asaku, hanya ingin bahagiakannya dan bersamanya kembali di Surga.
Ku jaga baik-baik hatinya.
Aku adalah perisai utama bagi siapa saja yang ingin menyakitinya.
Ia adalah manusia pertama yang memberiku semua asupan berguna.
Ia adalah tempat teraman dan ternyaman di dunia.
Ku panggil ia mama.