Langsung ke konten utama

Bersama Sampai Jannah-Nya

Siapa yang tak ingin miliki cinta sejati? Mengkaji ilmu dunia akhirat bersama, hadapi masalah-masalah dunia bersama, tertawa bersama, menangis bersama, berkeliling dunia untuk membantu manusia lain bersama, saling menyabari dalam duka, saling mengingatkan dalam suka. Adalah beberapa yang aku ingini.

Berbekal kecintaan kepada ilahi Rabbi, semua akan baik-baik saja. Itulah yang aku yakini.
Sebesar apa pun ujian yang datang, jika Allah adalah dasar pondasinya, semua akan dilalui dengan kepercayaan penuh bahwa ini hanya ujian untuk lebih dicintaiNya.
Cukup satu kali aku melihat kehilangan. Kehilangan sebab Allah belum mengakar pada jiwa.
Kehilangan yang aku rasa tidak akan benar-benar pernah aku lupakan namun aku harus terima dengan sebaik-baiknya.

Dalam memilih baju yang ingin kita beli pun kita akan banyak melakukan pertimbangan, terlebih memilih pasangan hidup. Apalagi tujuannya adalah bersama sampai Syurga.
Tentu pertimbangannya tidak mudah.
Jangan beri panca indera untuk menilai lebih, biarkan Allah menuntunmu kepada dia yang namanya telah disandingkan dengan namamu sebelum ruh ditiupkan ke badan.

Untukmu, lelaki yang sudah Allah gariskan untuk membersamaiku, berlarilah menuju Allah dengan sabar dan berbahagia.
Datangi aku dengan iman yang tak main-main, dengan kabar bahwa Allah adalah cinta pertamamu.
Bimbing aku dengan ilmu yang akan menghantarkan kita dan keluarga kita nanti menuju Jannah-Nya.

Sampai bertemu di waktu dan tempat yang sudah Allah siapkan..

Postingan populer dari blog ini

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Tempat ternyaman

Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya. Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak. Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar. Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik. Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain. Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta. Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya" Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku. Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas ...

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...