Langsung ke konten utama

Kembali Kepada Allah

Terdengar hebat namun tak benar-benar hebat.
Terdengar kuat namun tak benar-benar kuat.

Dua kaki menopang mimpi.
Dua mata menopang asa.
Katanya, kita makhluk paling sempurna.

Dada dibusungkan maju-maju.
Dagu diangkat tinggi-tinggi.
Katanya, kita makhluk punya hati.

Pintar karena belajar.
Kaya karena bekerja.
Memang benar adanya,
Tapi apalah kita tanpa bantuan Sang Maha?

Lalu pertanyaannya, siapa yang hebat sebenarnya? Dirimu atau Tuhan pemegang Jagat Raya?

Jika kepalamu terbentur, ingatanmu luntur..
Jika kakimu tinggal satu, langkahmu terpaku..
Jika matamu menjadi gelap menatap, mimpimu bahkan tak sampai atap..
Bisa apa?
Mau protes dan marah kepada siapa?

Betapa banyak manusia yang hanya bisa berbaring, rindu rasanya bersujud lama-lama namun tak bisa.

Betapa banyak manusia tak punya kaki, ingin berlari mengejar mimpi namun tak bisa sesempurna yang memiliki kaki.

Betapa banyak manusia yang seumur hidupnya hidup di dalam kegelapan. Ingin melihat seperti apa indahnya laut, gunung bahkan warna dari matahari namun tak bisa dan hanya bisa mendengar ceritanya.

Dan,
Betapa banyak manusia yang bertubuh dan berakal sempurna namun menjadi lumpuh sebab malasnya?

Hari ini kita hidup dalam iba Tuhan.
Masih diberi usia,
Masih diberi kekuatan,
Masih diberi kesempatan.
Lalu kenapa memilih menyia-nyiakan?

Bukankah dunia hanya perjalanan menuju pulang? "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu."
– Q.S adz-Dzariyat: 56

Apa pun yang melekat di dalam diri kita, kepintaran, kecantikan, ketampanan, kesehatan, keluarga, usia, hanya milik Allah ta'ala dan semua akan kembali kepada-Nya..

Srifa,
Tangerang,
18 Juli 2018.

Postingan populer dari blog ini

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Tempat ternyaman

Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya. Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak. Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar. Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik. Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain. Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta. Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya" Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku. Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas ...

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...