Langsung ke konten utama

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hitsnya adalah "Anak Zaman Now". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini.

Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan.

Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol.
Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now.
Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah.

Anak zaman now lebih banyak duduk menatap layar ponsel pintar mereka atau sekedar menggerakkan ponsel ke kanan ke kiri demi postingan dalam sosial media terbaru, salah satunya tiktok. Sosial media yang sangat booming akhir-akhir ini. Miris. Saya selaku orang dewasa kenapa merasa miris dan malu dengan tingkah mereka.
Sibuk berfokus pada ponsel dibanding mendengar petuah orang tua yang berlangsung. Sibuk unggah konten konten baru yang mereka sebut "spam" dibanding mencari kawan di dunia nyata untuk sekedar bermain rumah-rumahan. Sebentar-bentar mereview squishy yang baru dibeli, menghabiskan uang ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk mainan yang sama sekali tidak membawa faedah apa-apa dalam kehidupan sehari-hari.

Anak zaman now itu anak mahal. Mereka tak kenal jajan 5.000 untuk seharian. Yang mereka tau 5.000 hanya sebatas jajan sekolah. Ah, malah banyak sekali yang uang saku sekolahnya lebih dari 10.000 untuk kategori anak sekolah dasar. Miris? Iya. Sedari kecil sudah dilatih untuk hidup hedonis. Menganut paham hedonisme. Paham yang dalam Islam harus dijauhi, kini malah diterapkan sejak dini.
Kalau sudah begini siapa yang salah? Orangtua? Iya. Tepat sekali. Orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk karakter anak. Apakah anak akan menjadi pribadi yang mandiri dan tau diri atau malah jadi pribadi manja yang kerjaannya merengek uang untuk jajan saja.

Kata-kata kasar sudah jadi lumrah.
Komentar di kolom sosial media para influencer dengan bahasa binatang sudah jadi trend yang disirami terus menerus. Tidak sebut "njeng, njing, damn, shit, etc" sama saja kampungan, cupu, bahkan parahnya ada yang bilang marjinal.
Bodohnya anak zaman now sudah diambang batas. Mereka krisis akhlak dan moral. Kalau sudah begini siapa yang rugi selain orangtua mereka dan merekanya sendiri? Ya tentu negara. Negara lama kelamaan hanya akan diisi oleh kaum-kaum berakhlak minus juga berpengetahuan minus.
Tak ada lagi pengetahuan dari buku-buku sekolah yang mereka hafal, tak ada lagi terobosan baru dalam membuat teknologi pintar masa kini dengan limbah atau dengan barang-barang murah. Mereka yang berkarya hanya mereka yang hidupnya penuh dengan keterbatasan. Mereka yang berkecukupan? Bodoh perlahan. merusak otak juga mata hanya demi ponsel pintar semata.
Ponsel mereka pintar, bertambah pintar kian waktu. Mereka? Justru semakin lama semakin terbodohi.

Tak ada lagi waktu untuk berjalan ke rumah teman sekedar mengajak bermain atau memperkenalkan mainan baru. Tak ada lagi suara anak-anak disepanjang gang kecil. Semua hening, diam dalam rumah, menikmati mainan pada ponsel masing-masing. Bertemu pula dalam ponsel, dalam pertarungan sebuah game yang sedang berlangsung. Mereka sebut "Mabar".

Orang miskin, orang yang tinggal di pinggiran, semakin punya saudara baru. Susah senang sama-sama. Bahu membahu membangun kampung mereka bermukim, gotong royong menghias kampung agar semakin bagus dan maju.
Sedang orang kaya, orang berpendidikan, orang yang punya banyak fasilitas kini semakin terbuai dengan fasilitas yang ada. Berdiam diri di rumah pun semua kebutuhan terpenuhi. Tak perlu kenal tetangga pun tak apa, toh ada ojek dan toko online sebagai andalannya.
Tetangga kemalangan tak tau menahu jika tidak terekspos sosial media.
Sosial media jadi hidupnya, hidupnya adalah sosial media.
Apa-apa unggah. Pertengkaran rumah tangga diunggah, kemalingan diunggah, dinodai diunggah, ditinggal pasangan diunggah, makan diunggah, ke sana ke mari diunggaj, beramal diunggah, bahkan lebih gilanya, bunuh diri pun secara live di sosial media. GILA. Dunia ini semakin kehilangan arah dan pijakan.
Sosial media kini lebih terasa penting dibanding Tuhan yang dimana nyawa kita dalam genggamannya.

Tau apa anak-anak zaman now dengan berduyun-duyun ke surau untuk mengaji dan sembahyang jama'ah? Shaf sholat kini berpindah haluan. Dari yang tadinya di surau kini jadi di kafetaria atau malah di bar dengan air wudhu bir. Nauzubillah. Tuhan dikemanakan? Katanya beragama, tapi hanya ingat baju baru untuk lebaran. Tidak dengan makna dan siapa yang disembahnya.

Surau-surau sepi, tempat maksiat ramai.
Orang-orang berTuhan kini mulai anti mendengar nama Tuhannya disebut dimana-mana.
Bagi mereka yang demikian, nama Tuhan hanya pantas menggaung di tempat ibadah saja. Siapa yang mengagungkan Tuhan di luar tempat peribadatan dibilang sok suci bahkan parahnya dijauhi.
Alih-alih dijadikan sahabat, disapa pun telinga sudah panas. Sekarang coba tanya, jika demikian siapa yang bertahta dalam jiwa? Tuhan kah? Atau syaitan kah?

Orang tua yang budiman.. tinggalkan sejenak ponselmu, lihat dalam-dalam buah hatimu. Buah hati yang terlahir karna cintamu yang begitu besar. Buah hati yang kau bawa kemana-mana dalam perutmu, buah hati yang kau damba-damba kehadirannya ke dunia.
Kenapa kini kau acuhkan?
Apa pertanggungjawabanmu hanya sampai melahirkannya? Tentu tidak.
Dia menjadi tanggungjawabmu sampai waktu mempertemukanmu dengan Tuhanmu, yang dimana nyawamu dalam genggamannya.

Rangkul anakmu, buah cintamu, basuh hatinya dengan tasbih, lindungi tubuhnya dengan wudhu, dengan pemahaman tentang siapa Tuhannya, tentang kemana dia akan berpulang.
Cukup sudah ponsel pintar membunuh masa kanak-kanaknya. Cukup sudah membunuh kehidupan bersosialnya. Cukup sudah membunuh karakter Rabbaninya.
Kembalikan ia sebagaimana mestinya.
Kembalikan dunia kanak-kanaknya.

Ibunda.. ayahanda.. anak-anak kalian kini krisis akhlak.. tangan kalianlah obatnya.
Jangan biarkan buah cinta kalian mati mengikuti zaman. Hidup dan matilah sebagaimana mestinya. Pada jalan yang diridhai Tuhannya.
Cukup sudah memperjual belikan buah hati kalian dengan ponsel murahan.

Dari aku,
Yang peduli dengan buah hati berhati lugu, yang semestinya hidup sejalan dengan usianya.

Postingan populer dari blog ini

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Tempat ternyaman

Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya. Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak. Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar. Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik. Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain. Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta. Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya" Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku. Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas ...