Langsung ke konten utama

Kepada Allah semua kembali

Lagi-lagi, kepada Allah semua kembali.
Lagi-lagi, kepada Allah semua masalah dipasrahkan hasil penyelesaiannya.
Lagi-lagi kepada Allah semua resah, gundah, tanya, diserahkan.
Allah Sang Pemilik hati, detak jantung, desah nafas, derap langkah, binar mata dan seluruh yang terlihat dan tersembunyi dari semesta.

Menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah bukan berarti tak berjuang apa-apa untuk hasil akhirnya.
Justru karna diserahkan, ku titipkan pula padaNya.
Berharap suatu saat nanti, aku bisa gapainya. Dengan kesiapan lebih baik sebagai manusia.
Allah adalah tempat penitipan terbaik.
Ketika sudah Allah yang jaga, tak ada yang dapat menyentuhnya.

Seperti mimpi-mimpi yang naik ke Langit dari bisik-bisik kepada Bumi, Allah jaganya.
Ntah untuk kita apabila terwujud,
Atau untuk orang lain atau diganti dengan mimpi yang lebih baik apabila tidak terwujud.
Aku selalu percaya, Allah selalu punya rencana untuk tiap makhluknya.

Hidup itu untuk menuju pulang kan?
Pulang ke haribaan pemilik nyawa.
Berpeta Al-Quran dan As-Sunnah yang tidak ada keraguan atasnya. Bagi hamba-Nya yang percaya.
Jadi, kuletakkan dunia pada genggaman.
Yang bisa kulepas kapan saja Allah mau. Ya, Allah mau. Sebab manusia itu muluk-muluk dan banyak mau tapi belum tentu tau apa yang baik baginya.

Ku serahkan hati ini padaNya.
Ku serahkan segala yang ingin kumiliki pada restuNya.

Postingan populer dari blog ini

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Tempat ternyaman

Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya. Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak. Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar. Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik. Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain. Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta. Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya" Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku. Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas ...

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...