Langsung ke konten utama

Kepada Allah semua kembali

Lagi-lagi, kepada Allah semua kembali.
Lagi-lagi, kepada Allah semua masalah dipasrahkan hasil penyelesaiannya.
Lagi-lagi kepada Allah semua resah, gundah, tanya, diserahkan.
Allah Sang Pemilik hati, detak jantung, desah nafas, derap langkah, binar mata dan seluruh yang terlihat dan tersembunyi dari semesta.

Menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah bukan berarti tak berjuang apa-apa untuk hasil akhirnya.
Justru karna diserahkan, ku titipkan pula padaNya.
Berharap suatu saat nanti, aku bisa gapainya. Dengan kesiapan lebih baik sebagai manusia.
Allah adalah tempat penitipan terbaik.
Ketika sudah Allah yang jaga, tak ada yang dapat menyentuhnya.

Seperti mimpi-mimpi yang naik ke Langit dari bisik-bisik kepada Bumi, Allah jaganya.
Ntah untuk kita apabila terwujud,
Atau untuk orang lain atau diganti dengan mimpi yang lebih baik apabila tidak terwujud.
Aku selalu percaya, Allah selalu punya rencana untuk tiap makhluknya.

Hidup itu untuk menuju pulang kan?
Pulang ke haribaan pemilik nyawa.
Berpeta Al-Quran dan As-Sunnah yang tidak ada keraguan atasnya. Bagi hamba-Nya yang percaya.
Jadi, kuletakkan dunia pada genggaman.
Yang bisa kulepas kapan saja Allah mau. Ya, Allah mau. Sebab manusia itu muluk-muluk dan banyak mau tapi belum tentu tau apa yang baik baginya.

Ku serahkan hati ini padaNya.
Ku serahkan segala yang ingin kumiliki pada restuNya.

Postingan populer dari blog ini

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Shalat

"Seberapa banyak kita memahami bacaan dalam bacaan shalat-shalat kita?” Pertanyaan ini rasanya begitu tepat memukul hati. Padahal pertanyaan ini terdengar sederhana, karena bukankah ada ribuan rakaat shalat yang sudah dilakukan? Bagaimana mungkin ada orang yang melakukan aktivitas rutin, tapi tidak tau makna dari apa yang ia lakukan, bukan? Sejak kecil, kita dipahamkan bahwa shalat merupakan ibadah yang di dalamnya berisi doa-doa. Dan di bangku sekolah hingga saat ini pun kita memahami jika shalat adalah momen kita berkomunikasi dengan Allah. Namun yang menjadi pertanyaan, apa yang selama ini kita sedang obrolin ke Allah kalau kita pun tidak mengetahui apa makna yang sedang kita baca? Belum lagi ditambah masalah shalat-shalat yang kita lakukan secara terpaksa, yang kita sering dengan sengaja menunda-nunda, yang kita jalani ala kadarnya saja, yang dilaksanakan sebagai pengugur kewajiban semata. Bisa jadi inilah yang merupakan akar dari sebab kegelisahan hati dan permasalahan h...