Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya.
Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak.
Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar.
Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik.
Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain.
Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta.
Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya"
Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku.
Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas sekali, sama juga seperti namanya, Almahyra. Cerdas.
Hasna adalah bongkahan doa-doa kami siang, malam.
Hasna adalah hasil perjuangan kami meminta dan merayu Allah ta'ala selama satu setengah tahun usia pernikahan.
Tempat ternyaman bagi Hasna saat ini adalah pangkuanku, lenganku, dadaku, pelukanku. Maka, aku harusnya bahagia. Sebab, ada seorang yang bernyawa yang menganggapku adalah dunianya, pelindungnya, tempat teraman dan ternyaman baginya.
Sebab, bisa jadi beberapa puluh tahun ke depan, bukan aku lagi yang jadi tempat ternyamannya.
Sebab, dalam beberapa tahun lagi, mungkin saja ia sudah tidak ingin didekap dan dipangku seperti ini.
Hasna, mama suka menulis.
Semoga suatu saat Hasna bisa membaca tiap tulisan sederhana mama, khususnya yang mama tulis untuk dan mengenai Hasna. 🤍