Langsung ke konten utama

Kabar menggantung

Hari ini aku dapat kabar yang menggantung. Dari nomor kakakku. Kakak? Ya secara garis darah dia masih tetap kakakku. Kakak yang sudah lama menghilang. Pergi dengan membawa banyak sakit di hati.
Dulu, dulu sekali kami akrab.
Banyak bercerita, banyak bermain. Dia salah satu tempatku bermanja.
Sebelum tingkah buruknya merubah segalanya.

Dia punya kekurangan, kekurangannya bermuka dua. Kekurangannya, diam-diam menyakitkan.
Dia pernah berkata padaku, pantaslah aku ditinggalkan seseorang dan seorang itu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku.
Padahal, dia sama sekali tidak tau ceritanya.
Padahal, dia kakak kandungku, tapi ucapannya menyakitiku. Memojokkanku.
Sejak saat itu, aku tidak mau berurusan lagi dengannya.

Sampai beberapa Minggu lalu dia datang, membawa kabar dia tengah sakit parah.
Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit tipis.
Setiap hari ia meminta maaf.
Tapi belakangan ini, dia membuatku kesal karna aku dibawa-bawa ke dalam masalah yang cukup "meribetkan"ku.
Aku tidak suka berhubungan dengan kakak papa satu-satunya itu, dia masih sama, sikapnya acuh kepadaku. Juga kepada Hasna, anakku.

Sampai, pagi ini aku mendapat kabar bahwa kakakku itu katanya sudah pulang, tolong dimaafkan kesalahannya.
Tapi, aku tak tau pulang kemana yang dimaksud.
Perasaanku campur aduk,
Ada rasa sesal kemarin memarahinya
Juga rasa penasaran sebab tak ada jawaban dari nomor teleponnya. 

Postingan populer dari blog ini

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Tempat ternyaman

Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya. Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak. Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar. Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik. Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain. Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta. Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya" Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku. Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas ...

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...