Hari ini aku dapat kabar yang menggantung. Dari nomor kakakku. Kakak? Ya secara garis darah dia masih tetap kakakku. Kakak yang sudah lama menghilang. Pergi dengan membawa banyak sakit di hati.
Dulu, dulu sekali kami akrab.
Banyak bercerita, banyak bermain. Dia salah satu tempatku bermanja.
Sebelum tingkah buruknya merubah segalanya.
Dia punya kekurangan, kekurangannya bermuka dua. Kekurangannya, diam-diam menyakitkan.
Dia pernah berkata padaku, pantaslah aku ditinggalkan seseorang dan seorang itu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku.
Padahal, dia sama sekali tidak tau ceritanya.
Padahal, dia kakak kandungku, tapi ucapannya menyakitiku. Memojokkanku.
Sejak saat itu, aku tidak mau berurusan lagi dengannya.
Sampai beberapa Minggu lalu dia datang, membawa kabar dia tengah sakit parah.
Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit tipis.
Setiap hari ia meminta maaf.
Tapi belakangan ini, dia membuatku kesal karna aku dibawa-bawa ke dalam masalah yang cukup "meribetkan"ku.
Aku tidak suka berhubungan dengan kakak papa satu-satunya itu, dia masih sama, sikapnya acuh kepadaku. Juga kepada Hasna, anakku.
Sampai, pagi ini aku mendapat kabar bahwa kakakku itu katanya sudah pulang, tolong dimaafkan kesalahannya.
Tapi, aku tak tau pulang kemana yang dimaksud.
Perasaanku campur aduk,
Ada rasa sesal kemarin memarahinya
Juga rasa penasaran sebab tak ada jawaban dari nomor teleponnya.