Langsung ke konten utama

Kabar menggantung

Hari ini aku dapat kabar yang menggantung. Dari nomor kakakku. Kakak? Ya secara garis darah dia masih tetap kakakku. Kakak yang sudah lama menghilang. Pergi dengan membawa banyak sakit di hati.
Dulu, dulu sekali kami akrab.
Banyak bercerita, banyak bermain. Dia salah satu tempatku bermanja.
Sebelum tingkah buruknya merubah segalanya.

Dia punya kekurangan, kekurangannya bermuka dua. Kekurangannya, diam-diam menyakitkan.
Dia pernah berkata padaku, pantaslah aku ditinggalkan seseorang dan seorang itu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku.
Padahal, dia sama sekali tidak tau ceritanya.
Padahal, dia kakak kandungku, tapi ucapannya menyakitiku. Memojokkanku.
Sejak saat itu, aku tidak mau berurusan lagi dengannya.

Sampai beberapa Minggu lalu dia datang, membawa kabar dia tengah sakit parah.
Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit tipis.
Setiap hari ia meminta maaf.
Tapi belakangan ini, dia membuatku kesal karna aku dibawa-bawa ke dalam masalah yang cukup "meribetkan"ku.
Aku tidak suka berhubungan dengan kakak papa satu-satunya itu, dia masih sama, sikapnya acuh kepadaku. Juga kepada Hasna, anakku.

Sampai, pagi ini aku mendapat kabar bahwa kakakku itu katanya sudah pulang, tolong dimaafkan kesalahannya.
Tapi, aku tak tau pulang kemana yang dimaksud.
Perasaanku campur aduk,
Ada rasa sesal kemarin memarahinya
Juga rasa penasaran sebab tak ada jawaban dari nomor teleponnya. 

Postingan populer dari blog ini

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Hak yang Sering Terabaikan

Anak-anak harus dapatkan haknya. Untuk belajar dengan baik, untuk dapat kata-kata baik, untuk dapat makanan halal dan thayib, untuk dapat pendidikan, untuk dapat hak bermain, bertanya, menangis jika bersedih dan tertawa jika bahagia. Semiskin apa pun kondisi ekonomi mereka. "Kamu itu miskin, harus bantuin ibu cari uang! Jangan main terus!" - "kita ini orang susah, jangan main terus." adalah kata-kata yang amat saya benci untuk saya dengar. Miskin, kaya, adalah takdir yang bisa kita ubah dengan usaha diiringi do'a. Usaha untuk mencari uang, usaha untuk menjadi lebih baik kian hari, usaha untuk lebih dekat dengan pencipta tiap waktu, usaha untuk membantu orang lain, dan usaha-usaha lainnya pengiring usaha utama. Usaha di sini tak hanya bekerja yang berupah nominal rupiah. Miskin bukan alasan anak-anak tidak dapatkan haknya. Sesulit apa pun kondisi, anak tidak pantas dengar kata-kata penghakiman, tidak patut mengeluarkan tenaganya dalam mencari uang yang kat...