Langsung ke konten utama

Sebuah Prinsip Sederhana

Sejak dulu, saya punya beberapa prinsip sederhana yang masih saya pegang hingga saat ini. Diantaranya adalah; saya tidak ingin memiliki pasangan seorang perokok.

Mungkin bukan hanya prinsip saya, tapi juga prinsip banyak orang. Prinsip sederhana yang sulit untuk didapatkan. Apalagi, kalau seorang yang kita terlanjur cintai ternyata seorang pecandu rokok. Pasti dilema.

Kata kebanyakan orang, cinta itu buta. Mampu menerima walaupun tidak suka. Menerima namun memaksakan.
Saya pernah demikian.
Rasanya tidak nyaman.

Semakin dewasa, saya semakin belajar. Bahwa prinsip yang kita pegang pasti punya tujuan baik untuk kita. Begitu pun prinsip saya untuk tidak memiliki pasangan seorang perokok.
Saya memikirkan terlalu banyak masa depan. Tentang kesehatan saya, kesehatan anak-anak saya kelak, kesehatan pasangan saya, juga kesehatan rumah tangga yang akan saya jalani. Saya tidak mau terus-menerus berdebat perihal rokok nantinya. Dari pada harus terus-menerus berdebat dan membuat hubungan rumah tangga tidak awet, saya memilih untuk tidak menikah dengan seorang perokok.

Bagi kalian seorang perokok, kalian pun berhak memilih untuk menikah dengan seorang yang tidak menerima rokok maupun untuk tidak menikahinya. Kalian tentu tau konsekuensi yang akan kalian tanggung nantinya. Bukankah seorang berhak punya pilihan?

Contoh lain mungkin seorang pria yang tidak mau menikah dengan seorang wanita yang keras kepala. Pasti pria tersebut tidak mau jika nanti istrinya kelak sulit untuk dinasehati, dan juga tidak mau rumah tangganya penuh dengan keributan. Ya, setiap orang berhak memilih.

Kembali lagi kepada prinsip saya ini. Saya pernah berkata saya lebih baik kehilangan seorang yang saya sayangi, dari pada saya harus menikah dengannya sedang ia masih menjadi seorang perokok. Perkataan yang masih saya benarkan hingga saat ini.
Saya sudah tau bagaimana rasanya kehilangan, rasanya sama sekali tidak baik. Hati ini butuh waktu cukup lama untuk jadi baik-baik saja. Tapi saya masih punya Allah untuk bersandar.
Saya belajar untuk lebih menyayangi diri saya, lebih memprioritaskan masa depan saya, dibandingkan harus bertahan dalam sesuatu yang bertolak belakang dengan kemauan saya, padahal itu adalah sebuah pilihan.

Saya selalu berdoa Allah menijabah doa-doa saya, diantaranya mendekatkan saya dengan seorang pria yang tidak merokok atau bertekad kuat berhenti merokok dan benar-benar tidak merokok saat ia telah bersedia datang ke rumah orang tua saya untuk meminta anaknya ini.

Postingan populer dari blog ini

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Tempat ternyaman

Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya. Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak. Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar. Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik. Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain. Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta. Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya" Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku. Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas ...

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...