Sejak dulu, saya punya beberapa prinsip sederhana yang masih saya pegang hingga saat ini. Diantaranya adalah; saya tidak ingin memiliki pasangan seorang perokok.
Mungkin bukan hanya prinsip saya, tapi juga prinsip banyak orang. Prinsip sederhana yang sulit untuk didapatkan. Apalagi, kalau seorang yang kita terlanjur cintai ternyata seorang pecandu rokok. Pasti dilema.
Kata kebanyakan orang, cinta itu buta. Mampu menerima walaupun tidak suka. Menerima namun memaksakan.
Saya pernah demikian.
Rasanya tidak nyaman.
Semakin dewasa, saya semakin belajar. Bahwa prinsip yang kita pegang pasti punya tujuan baik untuk kita. Begitu pun prinsip saya untuk tidak memiliki pasangan seorang perokok.
Saya memikirkan terlalu banyak masa depan. Tentang kesehatan saya, kesehatan anak-anak saya kelak, kesehatan pasangan saya, juga kesehatan rumah tangga yang akan saya jalani. Saya tidak mau terus-menerus berdebat perihal rokok nantinya. Dari pada harus terus-menerus berdebat dan membuat hubungan rumah tangga tidak awet, saya memilih untuk tidak menikah dengan seorang perokok.
Bagi kalian seorang perokok, kalian pun berhak memilih untuk menikah dengan seorang yang tidak menerima rokok maupun untuk tidak menikahinya. Kalian tentu tau konsekuensi yang akan kalian tanggung nantinya. Bukankah seorang berhak punya pilihan?
Contoh lain mungkin seorang pria yang tidak mau menikah dengan seorang wanita yang keras kepala. Pasti pria tersebut tidak mau jika nanti istrinya kelak sulit untuk dinasehati, dan juga tidak mau rumah tangganya penuh dengan keributan. Ya, setiap orang berhak memilih.
Kembali lagi kepada prinsip saya ini. Saya pernah berkata saya lebih baik kehilangan seorang yang saya sayangi, dari pada saya harus menikah dengannya sedang ia masih menjadi seorang perokok. Perkataan yang masih saya benarkan hingga saat ini.
Saya sudah tau bagaimana rasanya kehilangan, rasanya sama sekali tidak baik. Hati ini butuh waktu cukup lama untuk jadi baik-baik saja. Tapi saya masih punya Allah untuk bersandar.
Saya belajar untuk lebih menyayangi diri saya, lebih memprioritaskan masa depan saya, dibandingkan harus bertahan dalam sesuatu yang bertolak belakang dengan kemauan saya, padahal itu adalah sebuah pilihan.
Saya selalu berdoa Allah menijabah doa-doa saya, diantaranya mendekatkan saya dengan seorang pria yang tidak merokok atau bertekad kuat berhenti merokok dan benar-benar tidak merokok saat ia telah bersedia datang ke rumah orang tua saya untuk meminta anaknya ini.