Hampir tiga tahun lamanya saya mengalami masa-masa sulit.
Setengah hidup saya runtuh dan berantakan.
Masalah yang kian membuat saya ingin dekat kepada Allah dan selalu mencari tahu tentang arti sebuah kesabaran.
Lima tahun lalu, Allah kirimkan saya malaikat tak bersayap. Darinya saya memulai bisnis yang dengan bisnis itu saya bisa raih cita-cita saya menjadi seorang sarjana pendidikan. Cita-cita yang tadinya saya anggap mustahil untuk saya wujudkan dengan pertimbangan perekonomian keluarga yang sangat sederhana.
Malaikat itu orang asing, kami tak pernah mengenal sebelumnya. Tapi, luar biasa, dia selalu percaya saya.
Dia adalah orang asing yang tak membiarkan saya berhenti kuliah di pertengahan jalan.
Dia adalah orang asing yang pertama memberi bantuan saat saya hampir putus harapan.
Dia adalah orang asing yang menyokong biaya pendidikan yang nominalnya gila-gilaan.
Ya, bagi saya ia adalah malaikat tak bersayap yang Allah kirimkan untuk saya dan mungkin untuk beberapa orang lain yang mengenalnya.
Siang hari ini, saya sampaikan maaf yang sebesar besarnya, sebab belum mampu melunasi tanggung jawab saya kepadanya.
Responnya singkat, namun membuat batu besar di pundak saya sedikit terangkat. Lega rasanya.
Ia memaklumi dan mendoakan saya.
Entah dengan apa saya bisa membalas segala kebaikannya, saya hanya berharap Allah bisa lipat gandakan pahalanya dan limpahkan rezekinya.
Allah Maha Tahu, betapa saya berhutang budi padanya.
Terima kasih bang!