Langsung ke konten utama

Malaikat tak bersayap

Hampir tiga tahun lamanya saya mengalami masa-masa sulit.
Setengah hidup saya runtuh dan berantakan.
Masalah yang kian membuat saya ingin dekat kepada Allah dan selalu mencari tahu tentang arti sebuah kesabaran.

Lima tahun lalu, Allah kirimkan saya malaikat tak bersayap. Darinya saya memulai bisnis yang dengan bisnis itu saya bisa raih cita-cita saya menjadi seorang sarjana pendidikan. Cita-cita yang tadinya saya anggap mustahil untuk saya wujudkan dengan pertimbangan perekonomian keluarga yang sangat sederhana.

Malaikat itu orang asing, kami tak pernah mengenal sebelumnya. Tapi, luar biasa, dia selalu percaya saya.
Dia adalah orang asing yang tak membiarkan saya berhenti kuliah di pertengahan jalan.
Dia adalah orang asing yang pertama memberi bantuan saat saya hampir putus harapan.
Dia adalah orang asing yang menyokong biaya pendidikan yang nominalnya gila-gilaan.
Ya, bagi saya ia adalah malaikat tak bersayap yang Allah kirimkan untuk saya dan mungkin untuk beberapa orang lain yang mengenalnya.

Siang hari ini, saya sampaikan maaf yang sebesar besarnya, sebab belum mampu melunasi tanggung jawab saya kepadanya.
Responnya singkat, namun membuat batu besar di pundak saya sedikit terangkat. Lega rasanya.
Ia memaklumi dan mendoakan saya.
Entah dengan apa saya bisa membalas segala kebaikannya, saya hanya berharap Allah bisa lipat gandakan pahalanya dan limpahkan rezekinya.

Allah Maha Tahu, betapa saya berhutang budi padanya.

Terima kasih bang!

Postingan populer dari blog ini

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Hak yang Sering Terabaikan

Anak-anak harus dapatkan haknya. Untuk belajar dengan baik, untuk dapat kata-kata baik, untuk dapat makanan halal dan thayib, untuk dapat pendidikan, untuk dapat hak bermain, bertanya, menangis jika bersedih dan tertawa jika bahagia. Semiskin apa pun kondisi ekonomi mereka. "Kamu itu miskin, harus bantuin ibu cari uang! Jangan main terus!" - "kita ini orang susah, jangan main terus." adalah kata-kata yang amat saya benci untuk saya dengar. Miskin, kaya, adalah takdir yang bisa kita ubah dengan usaha diiringi do'a. Usaha untuk mencari uang, usaha untuk menjadi lebih baik kian hari, usaha untuk lebih dekat dengan pencipta tiap waktu, usaha untuk membantu orang lain, dan usaha-usaha lainnya pengiring usaha utama. Usaha di sini tak hanya bekerja yang berupah nominal rupiah. Miskin bukan alasan anak-anak tidak dapatkan haknya. Sesulit apa pun kondisi, anak tidak pantas dengar kata-kata penghakiman, tidak patut mengeluarkan tenaganya dalam mencari uang yang kat...