Rindu tanpa undangan.
Kurang lebih tiga tahun saya belajar di sana. Sebuah tempat di bawah Jembatan penyambung Tanah Gocap dan UNIS. Kampus tempat saya menuntut ilmu.
Mungkin sebagian kalian sudah bosan mendengar aku selalu rindu dengan mereka.
Tapi, rindu itu nyatanya memang datang tanpa undangan.
Rindu itu datang, tapi tempat itu kini tak bisa lagi didatangi.
Hanya beberapa foto sebagai memori.
Tiap aku melewati jembatan itu, mataku selalu tertuju ke bawah.
Tempat dulu kami bermain kini benar-benar rata dengan tanah tanpa menyisakan apa pun, selain kenangan.
Tidak ada lagi pohon ambon kebanggaan, tidak ada lagi Mushola "On the sky" yang ramai akan suara mengaji dan bermain andik-andik, tidak ada lagi saung tua tempat kami berkumpul untuk makan bersama, tidak ada saung putri, saung seni, saung ma'e, tambak lele, kebun herbal, panggung seni, perpustakaan, gudang penyimpan makanan, kelas PAUD, juga ayunan serta perosotannya.
Semua benar-benar mengilang.
Padahal, perpustakaan dan saung seni baru saja dibangun.
Penuh buku-buku, ada bantal untuk teman membaca, juga rak dan lampu hias untuk saung seni.
Semua benar-benar dikemas.
Padahal usianya belum sampai satu tahun.
Sedih memang kalau mengingat semua kenangan di sana.
Tidak ada lagi tempat semenyenangkan AnaKlangit.
Tidak ada lagi ramai-ramai turun ke Kali saat air sedang surut untuk membawa berkilo-kilo ikan tangkapan.
Tapi aku percaya,
AnaKlangit selalu membekas dalam hati siapa pun yang pernah menyambanginya.
"5 menit pertama, kau adalah tamu. Lalu selanjutnya, kau adalah keluarga."
"Kalau kau datang, hatiku senang."
Tagline AnaKlangit yang hangat juga selalu dikenang.
Semoga Allah beri kami rezeki lagi, kesempatan lagi, ruang lagi, untuk membangun kembali sisa-sisa kenangan, sisa-sisa bambu saung, sisa-sisa kayu yang terikat untuk menjadi AnaKlangit yang lebih baik. Aamiin.
SW.