Langsung ke konten utama

Roti yang dicabik

Pagi ini dimulai dengan kata "kaget".

"Mbak Yuni.. mbak Yuni.. bangun, ini rotinya diacak-acak kucing.."

Aku langsung kaget dan nyaut "iya biiik.."
Langsung bangun dengan kondisi rambut acak-acakan menuju ruang tengah kosan. Dan, jengjeeeeng itu roti tawar s*ri roti berantakan di atas kulkas.
Plastik roti dan plastik *lfa nya rusak disobek-sobek. Wkwk "rezeki dipagi hari nih" ucapku dalam hati.

Kesel? Ya keseeel..
Sedih? Yaa lumayan..
Haha padahal itu roti udah aku siapin untuk sarapan pagi ini, juga sebagai ganti roti temen kosan yg kemarin aku makan buat sarapan.

Bibik udah marah-marah, ngatain itu kucing dengan segala kata-kata gak baik hehehe
Aku? Cuma ngegerutu aja, menyesalkan itu roti kenapa sampai bawah diacak-acaknya.
Terus abis ngegerutu, ketawa.
Ketawa yang dalam hati menyesali "kucing ini pasti lapar, dia mau makan, sampai segininya cari makanan."

Dan aku balik ke kamar, setelah bibik ngebuang semua roti itu ke tempat sampah.

Saat bibik marahin itu kucing nakal, aku ngerasa sedih, kayak lagi denger adik sendiri dikatain orang. Wkwkwk lebay gak sih?
Tapi gak tau ya, mungkin karena selama ini aku suka banget sama kucing dan punya cukup banyak peliharaan kucing di rumah, jadi gak tega denger kucing dikatain.

Di sini aku ngerasa ditegur sama Allah lewat kejadian pagi ini.
Kayaknya aku lagi dikasih pesan sama Allah untuk bersedekah dengan kucing-kucing liar di sini, gimana pun mereka butuh makan dan disayang..

Alhamdulillah, ditegur Allah dengan cara yang baik..

Sebelum ke kantor,
Kosan.

Postingan populer dari blog ini

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Tempat ternyaman

Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya. Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak. Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar. Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik. Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain. Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta. Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya" Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku. Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas ...

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...