Langsung ke konten utama

Tinggi Tanpa Merendahkan

Tiap orang pasti memiliki kelebihan, juga kekurangan.
"Hidup itu harus saling menghargai, sopan, santun dan mengasihi." Petuah seorang mama kepadaku yang selalu aku ingat dan pegang kuat-kuat.

Kita pasti akan ada di tempat di mana orang lain leluasa menjatuhkan agar dirinya kokoh sendirian. Leluasa merendahkan agar dirinya tinggi sendirian. "Cari muka" adalah tugas harian.

Tapi, apakah kau juga mau seperti itu?
Jangan.
Hidup lah dengan baik.
Tumbuh tinggi dan kokohlah karena memang kau berproses, kau belajar mendaki hingga sampai pada puncak dari tujuanmu selama ini. Dengan segala upaya yang menghasilkan keringat dan air mata tanpa menjatuhkan dan merendahkan orang lain tentunya.

Kau tau segala salahnya,
Tapi kau tak akan pernah benar-benar tau segala upayanya dalam belajar agar tidak menjadi salah dan disalahkan.

Jika kau tidak bisa berbicara dengan baik, diam adalah sikap terbijak yang bisa kau lakukan.

Hidup itu baik-baik saja.
Hargai setiap pilihan orang lain,
Jangan hakimi siapa pun karena kau merasa lebih tinggi dan mampu.
Bersikap sopan, santun dan hangat lah kepada siapa pun.

Bukan kah kau tau Rasulullah selalu mengajarkan kebaikan?

Sekuat apa pun dirimu berusaha dijatuhkan, tetap lah menjadi orang baik.
Melawan dengan cara elegan tanpa harus juga ikut menjatuhkan.

Tiap orang berlomba-lomba untuk menjadi nomor 1.
Padahal nomor 2 juga baik untuk diperjuangkan.

Asal,
Di mana pun kau tetap percaya kau punya Allah dalam tiap kesempatan.

Postingan populer dari blog ini

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Hak yang Sering Terabaikan

Anak-anak harus dapatkan haknya. Untuk belajar dengan baik, untuk dapat kata-kata baik, untuk dapat makanan halal dan thayib, untuk dapat pendidikan, untuk dapat hak bermain, bertanya, menangis jika bersedih dan tertawa jika bahagia. Semiskin apa pun kondisi ekonomi mereka. "Kamu itu miskin, harus bantuin ibu cari uang! Jangan main terus!" - "kita ini orang susah, jangan main terus." adalah kata-kata yang amat saya benci untuk saya dengar. Miskin, kaya, adalah takdir yang bisa kita ubah dengan usaha diiringi do'a. Usaha untuk mencari uang, usaha untuk menjadi lebih baik kian hari, usaha untuk lebih dekat dengan pencipta tiap waktu, usaha untuk membantu orang lain, dan usaha-usaha lainnya pengiring usaha utama. Usaha di sini tak hanya bekerja yang berupah nominal rupiah. Miskin bukan alasan anak-anak tidak dapatkan haknya. Sesulit apa pun kondisi, anak tidak pantas dengar kata-kata penghakiman, tidak patut mengeluarkan tenaganya dalam mencari uang yang kat...