Langsung ke konten utama

Tinggi Tanpa Merendahkan

Tiap orang pasti memiliki kelebihan, juga kekurangan.
"Hidup itu harus saling menghargai, sopan, santun dan mengasihi." Petuah seorang mama kepadaku yang selalu aku ingat dan pegang kuat-kuat.

Kita pasti akan ada di tempat di mana orang lain leluasa menjatuhkan agar dirinya kokoh sendirian. Leluasa merendahkan agar dirinya tinggi sendirian. "Cari muka" adalah tugas harian.

Tapi, apakah kau juga mau seperti itu?
Jangan.
Hidup lah dengan baik.
Tumbuh tinggi dan kokohlah karena memang kau berproses, kau belajar mendaki hingga sampai pada puncak dari tujuanmu selama ini. Dengan segala upaya yang menghasilkan keringat dan air mata tanpa menjatuhkan dan merendahkan orang lain tentunya.

Kau tau segala salahnya,
Tapi kau tak akan pernah benar-benar tau segala upayanya dalam belajar agar tidak menjadi salah dan disalahkan.

Jika kau tidak bisa berbicara dengan baik, diam adalah sikap terbijak yang bisa kau lakukan.

Hidup itu baik-baik saja.
Hargai setiap pilihan orang lain,
Jangan hakimi siapa pun karena kau merasa lebih tinggi dan mampu.
Bersikap sopan, santun dan hangat lah kepada siapa pun.

Bukan kah kau tau Rasulullah selalu mengajarkan kebaikan?

Sekuat apa pun dirimu berusaha dijatuhkan, tetap lah menjadi orang baik.
Melawan dengan cara elegan tanpa harus juga ikut menjatuhkan.

Tiap orang berlomba-lomba untuk menjadi nomor 1.
Padahal nomor 2 juga baik untuk diperjuangkan.

Asal,
Di mana pun kau tetap percaya kau punya Allah dalam tiap kesempatan.

Postingan populer dari blog ini

Dibedong

Setelah satu jam ngebiarin Hasna untuk ngoceh-ngoceh dan ketawa akhirnya harus dibedong juga biar tidur. Kalau ndak, dia bisa bertahan sampai subuh untuk melek. Ngoceh kelamaan,haus. Nanti nangis minta nen. WKWK Dasar bayik, siang-siang dia uring-uringan ngantuk, tengah malem dia jreng. Mamaknya yang ngantuk berat. Wkwkwk Love you bayik 💕

Tempat ternyaman

Tempat ternyaman anak adalah di pangkuan dan pelukan ibu dan ayahnya. Setelah 2 bulan lebih jadi ibu, aku banyak sekali belajar. Dan, perasaanku lebih sensitif kalau melihat atau mendengar berita masalah anak. Hasna mengajarkanku banyak-banyak sabar. Melatihku untuk mengelola stres dan rasa panik. Membiasakanku akan bau kotoran orang lain, juga muntah orang lain. Kata suamiku, begini ternyata rasanya cinta fitri. Cinta yang tumbuh karena fitrah. Cinta sebenar-benarnya cinta. Saat sedang stres karena kurang tidur dan Hasna sedang rewel, suamiku sering kali mengingatkan dengan kalimat "sayang, Hasna adalah rezeki yang kita tunggu-tunggu kan? Kamu seneng kan punya Hasna? Kita harus lebih sabar ya" Dan seketika, emosi ini meluruh lagi. Ingin menangis karena lelah, tapi tidak mau juga rezeki ini Allah tarik kembali. Aku tetap ingin ada Hasna di hidupku, di kehidupanku dan suamiku. Hasna adalah anak yang cantik sekali, seperti namanya, Hasna. Primadona. Dia juga cerdas ...

Anak Zaman Now.

Ini sedikit sekali pandangan tentang anak-anak saat ini, atau bahasa hits nya adalah "Anak Zaman Now ". Ntah dari siapa bahasa itu berasal tapi saya menganggapnya itu adalah sebuah panggilan yang mengandung arti sindiran secara halus bagi mereka, anak-anak pada tahun ke 18 pada Milenium ke 3 atau pada abad 21 ini. Anak zaman now dianggap lelucon bagi banyak orang, khususnya orangtua yang tumbuh dan berkembang pada abad 21 awal-pertengahan. Jujur, ada sedikit rasa salut saya pada anak-anak saat ini, karena keaktifan mereka juga kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi memang boleh diacungi jempol. Tapi di luar itu, saya masih belum menemukan nilai positif pada anak-anak saat ini atau zaman now . Akhlak yang kurang, hidup yang hedonis, pengetahuan agama yang minim, tata krama yang minus, motorik yang hanya berbatas gerak tari, kreatifitas menciptakan sesuatu yang dapat disentuh yang sangat minim, serta pandangan tentang contoh yang salah. Anak zaman now lebih banyak ...